Sehabis pulang sekolah sore ini, aku kembali membaca ulang percakapan kita, saat aku dan kamu masih menjadi dua manusia yang bisa dibilang punya kecocokan juga kesamaan. Aku tertawa walaupun diam-diam hatiku teriris mengingat bahwa hal-hal manis ini tak mungkin terjadi lagi. Tak mungkin lagi aku berharapbahwa kamu akan berubah jadi pria yang dulu begitu kukenal, yang kehadirannya sulit kuduga. Kenyataan yang harus kuterima, kamu bukan lagi pria yang dulu sangat kucinta, kamu berubah tak mau tahu lagi kenangan-kenangan kita dulu.
Rasanya aku masih mengingat ketika pertama kali kita berjumpa, dan banyak hal lain yang jika semakin kuingat, semakin membuat dadaku sakit. Aku tak sadar mengapa perkenalan yang tidak sengaja ini sukses membuatku berharap terlalu jauh pada sosok terlalu sempurna sepertimu.
Bagiku kesempurnaanmu adalah beban sangat berat untuk gadis seusiaku. Aku hanya perempuan biasa. Dan, kamu? Kamu adalah pria luar biasa yang tidak dapat kutemukan lagi sepertimu diluaran sana. Sementara aku hanya gadis biasa yang hanya berani menatapmu dari jauh dan berharap bahwa pertemuan pertama kita adalah mimpi yang akan terus berlanjut. Aku berharap tidak pernah bangun, berharap tak ada orang yang menyadarkanku bahwa mendekatimu adalah khayalan yang terlalu tinggi.
Dan, ternyata kamu memang tak sejauh matahari, kamu bukanlah sebuah ilusi. Dua kali kita bertemu, namun kamu menghadirkan kenangan yang tak akan pernah bisa kulupakan hanya dalam waktu singkat. Aku tak pernah paham apa yang membuatmu kini menjauh, aku tak tahu mengapa kau lebih percaya cerita mereka daripada pengakuanku. Aku tak tahu mengapa hubungan yang awalnya kukira main-main ini ternyata menimbulkan luka yang luar biasa dalam bagiku.
Terlalu cepat jika semua harus berkahir. Terlalu cepat jika aku harus kembali bersedih karena kehilangan kamu. Aku sedang di puncak sayang-sayangnya sama kamu, sementara kamu mendorongku dari atas sana, membiarkanku terjatuh sendirian dan kamu tertawa seakan tidak melakukan kesalahan. Ini terlalu cepat mas. perempuan yang selalu kamu sebut dengan dek ini masih memperjuangkan dan mengusahakanmu, tapi mengapa semalam kau bilang kamu telah bersama yang lain? Mungkin, ini tidak akan pernah adil untukku, namun apa yang bisa aku tuntut? kita tak punya status apapun, menangispun rasanya tak akan membuat kita kembali seperti dulu.
Aku tak membencimu. Aku cuma benci hari-hari tanpamu. Aku tidak akan pernah menyesal pernah mengenalmu. Aku hanya menyesal mengapa dulu saat kau tawarkan perkenalan, aku terlalu cepat untuk mengulurkan tangan?
nice :D
BalasHapuskeren^^
BalasHapusCritanya menarik
BalasHapusComen back ya