Sehabis pulang sekolah sore ini, aku kembali membaca ulang percakapan kita, saat aku dan kamu masih menjadi dua manusia yang bisa dibilang punya kecocokan juga kesamaan. Aku tertawa walaupun diam-diam hatiku teriris mengingat bahwa hal-hal manis ini tak mungkin terjadi lagi. Tak mungkin lagi aku berharapbahwa kamu akan berubah jadi pria yang dulu begitu kukenal, yang kehadirannya sulit kuduga. Kenyataan yang harus kuterima, kamu bukan lagi pria yang dulu sangat kucinta, kamu berubah tak mau tahu lagi kenangan-kenangan kita dulu.
Rasanya aku masih mengingat ketika pertama kali kita berjumpa, dan banyak hal lain yang jika semakin kuingat, semakin membuat dadaku sakit. Aku tak sadar mengapa perkenalan yang tidak sengaja ini sukses membuatku berharap terlalu jauh pada sosok terlalu sempurna sepertimu.
Bagiku kesempurnaanmu adalah beban sangat berat untuk gadis seusiaku. Aku hanya perempuan biasa. Dan, kamu? Kamu adalah pria luar biasa yang tidak dapat kutemukan lagi sepertimu diluaran sana. Sementara aku hanya gadis biasa yang hanya berani menatapmu dari jauh dan berharap bahwa pertemuan pertama kita adalah mimpi yang akan terus berlanjut. Aku berharap tidak pernah bangun, berharap tak ada orang yang menyadarkanku bahwa mendekatimu adalah khayalan yang terlalu tinggi.
Dan, ternyata kamu memang tak sejauh matahari, kamu bukanlah sebuah ilusi. Dua kali kita bertemu, namun kamu menghadirkan kenangan yang tak akan pernah bisa kulupakan hanya dalam waktu singkat. Aku tak pernah paham apa yang membuatmu kini menjauh, aku tak tahu mengapa kau lebih percaya cerita mereka daripada pengakuanku. Aku tak tahu mengapa hubungan yang awalnya kukira main-main ini ternyata menimbulkan luka yang luar biasa dalam bagiku.
Terlalu cepat jika semua harus berkahir. Terlalu cepat jika aku harus kembali bersedih karena kehilangan kamu. Aku sedang di puncak sayang-sayangnya sama kamu, sementara kamu mendorongku dari atas sana, membiarkanku terjatuh sendirian dan kamu tertawa seakan tidak melakukan kesalahan. Ini terlalu cepat mas. perempuan yang selalu kamu sebut dengan dek ini masih memperjuangkan dan mengusahakanmu, tapi mengapa semalam kau bilang kamu telah bersama yang lain? Mungkin, ini tidak akan pernah adil untukku, namun apa yang bisa aku tuntut? kita tak punya status apapun, menangispun rasanya tak akan membuat kita kembali seperti dulu.
Aku tak membencimu. Aku cuma benci hari-hari tanpamu. Aku tidak akan pernah menyesal pernah mengenalmu. Aku hanya menyesal mengapa dulu saat kau tawarkan perkenalan, aku terlalu cepat untuk mengulurkan tangan?
Alrisha Windiya
Sabtu, 24 Januari 2015
Minggu, 18 Januari 2015
Kisah yang Salah
Untuk 'Mas yang selalu memanggilku dengan sebutan 'Dek'
Masih tersisa bayang-bayangmu di kamarku. Suara pendingin ruangan, ketika jemariku di laptop, dan setiap inci ketika aku melempar pandang. Entah, mengapa wajahmu selalu hadir di sana. Aku tahu ini bukan lagi perasaan yang biasa, perasaan ini pun tak jelas ujungnya, perasaan yang membuatku bingung dan linglung. Aku pun semakin dibuat bingung kekasihmu, yang tak pernah kau ceritakan itu memakiku dengan ucapan murahan dan berbagai makhluk dari kebun binatang ikut serta dalam hujatan kekasihmu dan makian dari kekasihmu itu benar-benar menghancurkanku.
Kita bertengkar hebat, mengapa tidak dari awal kamu mengaku telah berdua? meskipun kita belum terikat dalam status dan kejelasan, kejadian ini cukup membuatku terpukul dan terluka. Adakah yang paling sakit ketika kau dibohongi oleh orang yang seratus persen kamu percayai? dan kamu merusak kepercayaan yang telah kubangun susah payah demi kamu. Aku tak tahu harus menyesal, marah berteriak, meninggalkanmu, atau secara egois tetap melanjutkan hubungan kita. Yang jelas, saat ini, aku tahu siapa pria yang selama ini kucintai dengan sangat tolol. Kamu cuma pembohong yang menghalalkan segala cara untuk menghapus kesepian dan kehausan dirimu akan perhatian.
Kalau kamu mau aku mengatakan semua dengan sangat jujur, aku akan bercerita betapa sejak kita berkenalan, kamu telah memunculkan ledakan-ledakan dihatiku. Kamu adalah gambaran pria sempurna yang kucari selama ini. Kamu sempurna, Mas, sangat sempurna bagiku. Silaumu menggelapkan mataku, aku seakan pasrah berjalan menuju cahayamu. Aku terlena pada percakapan kita di ujung malam, pada tawamu yang menyegarkanku, pada selera humormu yang cukup tinggi, pada kata-kata cintamu, pada usahamu untuk menahanku pergi.
Aku telah memilihmu, bahkan ketika aku menemukanmy ada faktor yang entah dinamakan apa, yang membuatku tak ingin meninggalkan ponsel barang sedetik saja, agar tetap mengetahui kabarmu. Dari makian kekasihmu, perempuan yang tak sepenuhnya aku kenali itu, sesungguhnya aku telah paham bahwa aku salah telah mengagumimu. Seharusnya, sebelum kita bergerak terlalu jauh, lebih dulu harus tau harus kutahu bagaimana status hubunganmu yang sesungguhnya. Aku tak tahu perasaan ini bernama apa, Mas. Yang jelas setelah ntahu kamu berbohong, aku hanya merasakan mataku panas dan ada yang basah dipipiku.
Sekarang apa yang harus aku sesali? kau dan dia sudah menjalin hubungan lama, aku yang baru kau kenali dalam hitungan bulan hanya bisa berdoa bahwa tuhan sesegera mungkin melepaskan perasaan ini, agar aku tak jadi pembunuh berdarah dingin yang haus akan rasa bahagia. Aku yang tak tahu salahku dimana, terpaksa meminta maaf pada kekasihmu, walaupun sebenarnya aku tak tahu dimana salahku. Setiap kutanya, kau hanya menutup mulut, berkata maaf, berkata kau mencintaiku, berkata kau tak ingin kehilanganku, berucap bahwa kauingin tetap kita dalam status berteman. Setelah kau hancurkan semua, setelah kau habisi semua harapanku, kau masih ingin berharap aku tetap bersikap normal ketika luka dihatiku semakin berdarah?
Ah, ini bukan salahmu, juga bukan salah kekasihmu yang memakiku dengan ucapan kasar itu. Ini salahku, gadis yang terlalu cepat mengagumimu, gadis berumur belasan tahun yang merasa bahwa kamu bisa menjadi sandaran hatinya. Ini salahku, pasti salahku, selalu salahku, karena tak paham bahwa perkenalan ini ternyata bisa menjerumuskan aku pada perasaan yang harusnya tidak aku rasakan. Aku minta maaf untuk semua peristiwa yang terjadi tanpa keinginanmu, tanpa keinginan kekasihmu, tanpa keinginan kalian. Aku tidak pernah bermaksud untuk mengganggu kebahagianmu karena sebenarnya dari awal kau mengaku tak punya seorang kekasih, jadi kurasa masih ada kesempatan untuk membuatmu tertawa dan bahagia lebih dari hari ini.
Aku tak pernah tahu perasaan ini disebut apa. Yang jelas ketika kubilang aku ingin meninggalkanmu, aku ingin mengakhiri semua, aku ingin kau pergi menjauh. Aku merasa seperti membohongi diri sendiri. Aku tak tahu perasaan ini dinamakan apa, jika memang bukan cinta, jika memang hanya ketertarikan sesaat, mengapa sekarang aku masih menatap ponselku, berharap kamu menanyakan kabarku?
Masih tersisa bayang-bayangmu di kamarku. Suara pendingin ruangan, ketika jemariku di laptop, dan setiap inci ketika aku melempar pandang. Entah, mengapa wajahmu selalu hadir di sana. Aku tahu ini bukan lagi perasaan yang biasa, perasaan ini pun tak jelas ujungnya, perasaan yang membuatku bingung dan linglung. Aku pun semakin dibuat bingung kekasihmu, yang tak pernah kau ceritakan itu memakiku dengan ucapan murahan dan berbagai makhluk dari kebun binatang ikut serta dalam hujatan kekasihmu dan makian dari kekasihmu itu benar-benar menghancurkanku.
Kita bertengkar hebat, mengapa tidak dari awal kamu mengaku telah berdua? meskipun kita belum terikat dalam status dan kejelasan, kejadian ini cukup membuatku terpukul dan terluka. Adakah yang paling sakit ketika kau dibohongi oleh orang yang seratus persen kamu percayai? dan kamu merusak kepercayaan yang telah kubangun susah payah demi kamu. Aku tak tahu harus menyesal, marah berteriak, meninggalkanmu, atau secara egois tetap melanjutkan hubungan kita. Yang jelas, saat ini, aku tahu siapa pria yang selama ini kucintai dengan sangat tolol. Kamu cuma pembohong yang menghalalkan segala cara untuk menghapus kesepian dan kehausan dirimu akan perhatian.
Kalau kamu mau aku mengatakan semua dengan sangat jujur, aku akan bercerita betapa sejak kita berkenalan, kamu telah memunculkan ledakan-ledakan dihatiku. Kamu adalah gambaran pria sempurna yang kucari selama ini. Kamu sempurna, Mas, sangat sempurna bagiku. Silaumu menggelapkan mataku, aku seakan pasrah berjalan menuju cahayamu. Aku terlena pada percakapan kita di ujung malam, pada tawamu yang menyegarkanku, pada selera humormu yang cukup tinggi, pada kata-kata cintamu, pada usahamu untuk menahanku pergi.
Aku telah memilihmu, bahkan ketika aku menemukanmy ada faktor yang entah dinamakan apa, yang membuatku tak ingin meninggalkan ponsel barang sedetik saja, agar tetap mengetahui kabarmu. Dari makian kekasihmu, perempuan yang tak sepenuhnya aku kenali itu, sesungguhnya aku telah paham bahwa aku salah telah mengagumimu. Seharusnya, sebelum kita bergerak terlalu jauh, lebih dulu harus tau harus kutahu bagaimana status hubunganmu yang sesungguhnya. Aku tak tahu perasaan ini bernama apa, Mas. Yang jelas setelah ntahu kamu berbohong, aku hanya merasakan mataku panas dan ada yang basah dipipiku.
Sekarang apa yang harus aku sesali? kau dan dia sudah menjalin hubungan lama, aku yang baru kau kenali dalam hitungan bulan hanya bisa berdoa bahwa tuhan sesegera mungkin melepaskan perasaan ini, agar aku tak jadi pembunuh berdarah dingin yang haus akan rasa bahagia. Aku yang tak tahu salahku dimana, terpaksa meminta maaf pada kekasihmu, walaupun sebenarnya aku tak tahu dimana salahku. Setiap kutanya, kau hanya menutup mulut, berkata maaf, berkata kau mencintaiku, berkata kau tak ingin kehilanganku, berucap bahwa kauingin tetap kita dalam status berteman. Setelah kau hancurkan semua, setelah kau habisi semua harapanku, kau masih ingin berharap aku tetap bersikap normal ketika luka dihatiku semakin berdarah?
Ah, ini bukan salahmu, juga bukan salah kekasihmu yang memakiku dengan ucapan kasar itu. Ini salahku, gadis yang terlalu cepat mengagumimu, gadis berumur belasan tahun yang merasa bahwa kamu bisa menjadi sandaran hatinya. Ini salahku, pasti salahku, selalu salahku, karena tak paham bahwa perkenalan ini ternyata bisa menjerumuskan aku pada perasaan yang harusnya tidak aku rasakan. Aku minta maaf untuk semua peristiwa yang terjadi tanpa keinginanmu, tanpa keinginan kekasihmu, tanpa keinginan kalian. Aku tidak pernah bermaksud untuk mengganggu kebahagianmu karena sebenarnya dari awal kau mengaku tak punya seorang kekasih, jadi kurasa masih ada kesempatan untuk membuatmu tertawa dan bahagia lebih dari hari ini.
Aku tak pernah tahu perasaan ini disebut apa. Yang jelas ketika kubilang aku ingin meninggalkanmu, aku ingin mengakhiri semua, aku ingin kau pergi menjauh. Aku merasa seperti membohongi diri sendiri. Aku tak tahu perasaan ini dinamakan apa, jika memang bukan cinta, jika memang hanya ketertarikan sesaat, mengapa sekarang aku masih menatap ponselku, berharap kamu menanyakan kabarku?
Sabtu, 03 Januari 2015
Kenapa harus kamu?
Kenapa harus kamu?
Yang menghadirkan tanda tanya dan bisu yang menyeringai santai
Kenapa harus kamu?
Yang tiba-tiba datang lalu menyelonong masuk ke dalam pintu hatiku
Apakah tak ada orang lain selain kamu?
Yang bisa membuatku jatuh cinta hingga merasakan luka
Aku masih tak tahu dan tak mengerti
Kenapa harus kamu?
Yang mampu memaksa otakku agar tak berhenti memikirkanmu
Kenapa harus kita?
kenapa bukan mereka?
Kenapa kau tak pernah menjawab?
Kenapa kau yak pernah memberiku isyarat?
Aku telah melawan rasa takutku
Hanya umtuk mencintaimu
Lalu, kenapa harus kamu?
Yang mampu mengubah rasa takutku menjadi sebuah keberanian kecil
Mengubah badanku yang menggigil menjadi senyum tipis walau secuil
Jangan biarkan aku terus mencari hal yang sebenarnya tak ada
Jangan biarkan aku terus merasakan perasaan yang sebenarnya tak kau rasakan
Jangan biarkan aku terus menunggu
Jangan biarkan waktuku terus terbuang
Hanya karena kamu yang sulit kulupakan
Kenapa harus kamu?
Yang mampu membuatku melamun sepanjang waktu
Kenapa harus kamu?
Yang menjadi sebab air mataku terjatuh
Yang menghadirkan tanda tanya dan bisu yang menyeringai santai
Kenapa harus kamu?
Yang tiba-tiba datang lalu menyelonong masuk ke dalam pintu hatiku
Apakah tak ada orang lain selain kamu?
Yang bisa membuatku jatuh cinta hingga merasakan luka
Aku masih tak tahu dan tak mengerti
Kenapa harus kamu?
Yang mampu memaksa otakku agar tak berhenti memikirkanmu
Kenapa harus kita?
kenapa bukan mereka?
Kenapa kau tak pernah menjawab?
Kenapa kau yak pernah memberiku isyarat?
Aku telah melawan rasa takutku
Hanya umtuk mencintaimu
Lalu, kenapa harus kamu?
Yang mampu mengubah rasa takutku menjadi sebuah keberanian kecil
Mengubah badanku yang menggigil menjadi senyum tipis walau secuil
Jangan biarkan aku terus mencari hal yang sebenarnya tak ada
Jangan biarkan aku terus merasakan perasaan yang sebenarnya tak kau rasakan
Jangan biarkan aku terus menunggu
Jangan biarkan waktuku terus terbuang
Hanya karena kamu yang sulit kulupakan
Kenapa harus kamu?
Yang mampu membuatku melamun sepanjang waktu
Kenapa harus kamu?
Yang menjadi sebab air mataku terjatuh
Senin, 15 Desember 2014
Bisakah Kau Bayangkan Rasanya Jadi Aku?
Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku. Setiap malam,sebelum tidur,kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa kecilmu,kecupan berbentuk tulisan, dan canda kita selalu membuatku tersenyum diam-diam. Perasaan ini sangat dalam, sehingga aku memilih untuk memendam.
Jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang, itulah proses yang seharusnya aku lewati secra alamiah dan manusiawi. Proses yang panjang itu ternyata tak terjadi, pertama kali melihatmu, aku tahu suatu saat nanti kita bisa berada di status yang lebih spesial. Aku terlalu penasaran ketika mengetahui kehadiranmu mulai mengisi kekosongan hatiku. Kebahagiaanku mulai hadir ketika kamu meyapaku lebih dulu dalam pesan singkat. semua begitu bahagia.... dulu.
Aku sudah berharap lebih. kugantungkan harapanku padamu. kuberikan sepenuhnya perhatianku untukmu. Sayangnya, semua hal itu seakan kau gubris. Kamu di sampingku, tapi getaran yang kuciptakan seakan tak benar-benar kaurasakan. Kamu berada di dekatku, namun segala perhatianku seperti menguap tak berbekas. Apakah kamu benar tidak memikirkan aku? Bukankah kata teman-temanmu, kamu adalah perenung yang sering kali menangis ketika memikirkan sesuatu yang begitu dalam? Temanmu bilang kamu senang memendam dan enggan bertindak banyak. Kamu lebih senang menunggu. Benarkah kamu memang menunggu? Apalagi yang kautunggu jika kau sudah tahu bahwa aku mencintaimu?
Tuan, tak mungkin kau tak tahu ada perasaan aneh di dadaku. Kekasihku yang belum sempat kumiliki, tak mungkin kau tak memahami perjuangan yang kulakukan untukmu. Kamu ingin tahu rasanya seperti aku? Dari awal, ketika kita pertama kali berkenalan, aku hanya ingin melihatmu bahagia. Senyummu adalah salah satu keteduhan yang paling ingin kulihat setiap hari. Dulu, aku berharap bisa menjadi salah satu sebab kau tersenyum setiap hari, tapi ternyata harap ku terlalu tinggi.
Semua telah berakhir. Tanpa ucapan pisah. Tanpa lambaian tangan. Tanpa kau jujur mengenai perasaanmu. Perjuanganku terhenti karena aku tak pantas lagi berada di sisimu. Sudah ada seseorang yang lebih baik dan sempurna daripada aku. Tentu saja, jika dia tak sempurna kau tak akan memilih dia menjadi satu-satunya bagimu.
Setelah tahu semua itu, apakah kamu pernah menilik sedikit saja perasaanku? ini semua terasa aneh bagiku. Kita yang dulu sempat dekat, walaupun tak punya status apa-apa, meskipun berada dalam ketidakjelasan, tiba-tiba menjauh tanpa sebab. Aku yang terbiasa dengan sapaanmu di pesan singkat harus (terpaksa) ikhlas karena akhirnya kamu sibuk dengan kekasihmu. Aku berusaha memahami itu. Setiap hari. Setiap waktu. Aku berusaha menyakini diriku bahwa semua sudah berakhir dan aku tak boleh lagi berharap terlalu jauh.
Tuan, jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin diperkenalkan ketika terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebutkan nama. Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis. Sungguh, aku tak ingin terjadi jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku.
Kalau kau ingin tahu bagaimana perasaanku, seluruh kosakata dalam milyaran bhasa tak mampu mendeskripsikan. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkataan dan bualan. Aku lelah. Itulah perasaanku. sudahkah kau paham? Belum. Tentu saja. Apa pedulimu padaku? Alu tak pernah ada dalam matamu, aku selalu tak punya tempat dalam hatimu.
Setiap hari, setiap waktu, setiap aku melihatmu dengannya. Aku selalu berusaha menganggap semua baik-baik saja. Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. AKu membayangkan perasaanku yang suatu saat nanti pasti akan hilang, aku memimpikan lukaku akan segera kering, dan tak ada lagi hal-hal penyebab aku menangis setiap malam. Namun.... sampai kapan aku harus terus mencoba?
Sementara ini saja, aku tak kuat melihatmu menggenggam jemarinya. Sulit bagiku menerima kenyataan bahwa kamu yang begitu kucintai ternyata memilih pergi bersama yang lain. Tak mudah menyakinkan diriku sendiri utnuk segera melupakanmu kemudian mencari pengganti.
Seandainya kamu bisa membaca perasaanku dan kamu bisa mengetahui isi otakku, mungkin hatimu yang beku akan segera mecair. Aku tak tahu apa salahku sehingga kita yang baru saja kenal, baru saja mencicipi cinta, tiba-tiba terhempas dari dunia mimpi ke dunia nyata. Tak penasarankah kamu pada nasib yang membiarkan kita kedinginan seorang diri tanpa teman dan kekasih?
Aku menulis ini ketika mataku tak kuat lagi menagis. Aku melusi ini ketika mulutku tak mampu lagi berkeluh. Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah hadir, meskipun tak pernah benar-benar tinggal. Seandainya kau tahu perasaanku dan bisa membaca keajaiban dalam perjuanganku, mungkin kamu akan berbaik arah, memilihku sebagai tujuan. Tapi, a
ku hanya persinggahan, tempatmu meletakkan segala kecemasan, lalu pergi tanpa janji untuk pulang.
ku hanya persinggahan, tempatmu meletakkan segala kecemasan, lalu pergi tanpa janji untuk pulang.
Semoga kau tahu, aku berjuang, setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku agar membencimu, setiap hari, ketika ku lihat kamu bersama kekasih barumu. Aku berusaha keras, setiap hari, menerima kenyataan yang begitu kelam.
Bisakah kau bayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka, hanya karena ia tak tahu bagaimana perasaan orang yang mencintainya? Bisakah kau bayangkan rasanya jadi aku yang setiap hari harus melihatmu dengannya?
Bisakah kau bayangkan rasanya jadi seseorang yang setiap hari menahan tangisnya agar terlihat baik-baik saja?
Kamu tak bisa. Tentu saja. Kamu tidak perasa.
Selasa, 02 Desember 2014
Aku Rindu Kamu yang Dulu
Setelah pertengkaran kita semalam, rasanya aku masih belum paham. Pria macam apa yang dulu bisa begitu kucintai. Aku tidak pernah melihat kamu yang seperti ini. Kamu yang tak peduli,kamu yang mengucapkan janji setengah hati,kamu yang selalu marah setiap kali kutanya siapa wanita-wanita itu, kamu yang tak pernah mau jelaskan dan mejawab pertanyaanku, dan kamu yang kali ini tidak lagi kukenali. Aku tidak tahu siapa pria yang kali ini membalas pesan singkatku, pria yang begitu mudah berkata putus. lalu menonaktifkan ponsel tanpa memberikan penjelasan apapun.
Kamu tahu, Sayang, aku sudah sesabar apa. Aku rela tidak menuntutmu ini itu. karena aktivitasmu yang segunung dan tak bisa sering-sering memberi kabar untukku. Aku tidak memintamu selalu menghubungiku sepanjang waktu, berusaha tak memarahimu ketika kamu lelah dengan aktivitasmu dan melarikan semua amarahmu dengan cara menyakitiku. Aku setia jadi tempat curahan hatimu, tempat kamu membentak seluruh isi dunia, tempat kamu membenci hari-hari. Aku berusaha sekuat mungkin jadi dinding kokoh yang kau ludahi, kau coret-coret, kamu kotori tanpa aku memakimu balik. apakah kau tak melihat kesabaran hati seorang perempuan dari semua sikapku yang selalu menahan diri untuk tak menangis di depanmu?
Kamu tak lihat air mataku, tak lihat juga seberapa parah lukaku selama ini. Aku tak pernah berusaha berteriak seperti kamu selalu meneriakiku, tak mau melukaimu seperti kamu melukaiku. Sebutkan padaku, Sayang. Perempuan mana yang ada bersamamu bahkan dalam sakit lemahmu jika bukan ibumu dan aku? Apakah perempuan lain yang selalu kau datangi itu bisa bertahan denganmu dalam keadaan terburukmu? Apakah perempuan lain yang selalu membuatku harus bersabar lebih banyak lagi ada perempuan yang pantas kau datangi?
Sayang, sadarlah, suatu saat nanti perempuan jalang yang sering kau datangi itu akan pergi, menghisap habis seluruh kekuatan dan dayamu, pada akhirnya kamu akan terseok-seok berjalan kearahku. Namun, masa itu belum datang, Sayang. Saat ini, kamu hanya melihatku sebagai perempuan egois, labil,emosi, tak tahu diri hanya ingin dikabari sepanjang hari. Sayang, kamu melihatku hanya dari sisi yang paling kau benci. Kau belum paham bahwa perempuan yang takut kehilangan kamu adalah perempuan yang sangat menincati kamu. Masa itu akan datang, Sayang, saat aku tak lagi memedulikanmu dan kamu bersungut-sungut memintaku pulang
Kali ini biarkan hatiku teriris sendiri. Biarkan aku yang terluka parah, biarkan aku yang menangis diam-diam sekarang. Tapi lihatlah nanti, Sayang, Suatu saat nanti, air mataku berubah jadi senyum yang tak berkesudahan. Aku sebenarnya tahu apa yang harus kulakukan, pergi meninggalkanmu, melupakanmu, dan menganggap semua tak pernah terjadi. Namun sekarang aku masih sabar untuk menghadapimu, aku masih ingin memberfimu kesempatan untuk yang beribu kali. Jika kesabaranku ini masih ingin kamu sia-siakan, mungkin jalan yang terbaik memang harus pergi. Karena kamu bukan lagi pria yang ku kenal seperti dulu lagi, bukan pria manis yang kucintai karena ketulusan dan keramahannya.
Kini, kamu adalah pria kasar yang tak segan-segan, mengeluarkan kata makian, hujatan, dan kata-kata lain yang menusukkan jarum-jarum kecil dihatiku. Kamu berubah jadi pria lain, pria egois yang selalu ingin dimengerti kesibukkannya, dan membiarkan aku menunggu sabar tanpa melawan ataupun membuka suara. Aku tak tahu mengapa perjuanganku hanya kau anggap angin lalu. Apa matamu tak terbuka untuk menyadari siapa perempuan yang selama ini jatuh bangun mencintaimu?
Biarlah waktu yang membuatmu sadar, Sayang. Biarkan aku yang hanya kauanggap angin lalu ini pergi pelan-pelan dari hidupmu. Beri aku kesempatan untuk menghirup udara bebas dan tak lagi menangisi sikap cuekmu selama ini.
Permintaanku tak banyak, aku hanya ingin kamu yang dulu kembali lagi ke masa kini. Entahlah ... rasanya aku sangat ingin kamu yang dulu. Kamu yang lugu, polos, dan yang selalu takut kehilanganku. Aku rindu kamu yang dulu.
Kamu tahu, Sayang, aku sudah sesabar apa. Aku rela tidak menuntutmu ini itu. karena aktivitasmu yang segunung dan tak bisa sering-sering memberi kabar untukku. Aku tidak memintamu selalu menghubungiku sepanjang waktu, berusaha tak memarahimu ketika kamu lelah dengan aktivitasmu dan melarikan semua amarahmu dengan cara menyakitiku. Aku setia jadi tempat curahan hatimu, tempat kamu membentak seluruh isi dunia, tempat kamu membenci hari-hari. Aku berusaha sekuat mungkin jadi dinding kokoh yang kau ludahi, kau coret-coret, kamu kotori tanpa aku memakimu balik. apakah kau tak melihat kesabaran hati seorang perempuan dari semua sikapku yang selalu menahan diri untuk tak menangis di depanmu?
Kamu tak lihat air mataku, tak lihat juga seberapa parah lukaku selama ini. Aku tak pernah berusaha berteriak seperti kamu selalu meneriakiku, tak mau melukaimu seperti kamu melukaiku. Sebutkan padaku, Sayang. Perempuan mana yang ada bersamamu bahkan dalam sakit lemahmu jika bukan ibumu dan aku? Apakah perempuan lain yang selalu kau datangi itu bisa bertahan denganmu dalam keadaan terburukmu? Apakah perempuan lain yang selalu membuatku harus bersabar lebih banyak lagi ada perempuan yang pantas kau datangi?
Sayang, sadarlah, suatu saat nanti perempuan jalang yang sering kau datangi itu akan pergi, menghisap habis seluruh kekuatan dan dayamu, pada akhirnya kamu akan terseok-seok berjalan kearahku. Namun, masa itu belum datang, Sayang. Saat ini, kamu hanya melihatku sebagai perempuan egois, labil,emosi, tak tahu diri hanya ingin dikabari sepanjang hari. Sayang, kamu melihatku hanya dari sisi yang paling kau benci. Kau belum paham bahwa perempuan yang takut kehilangan kamu adalah perempuan yang sangat menincati kamu. Masa itu akan datang, Sayang, saat aku tak lagi memedulikanmu dan kamu bersungut-sungut memintaku pulang
Kali ini biarkan hatiku teriris sendiri. Biarkan aku yang terluka parah, biarkan aku yang menangis diam-diam sekarang. Tapi lihatlah nanti, Sayang, Suatu saat nanti, air mataku berubah jadi senyum yang tak berkesudahan. Aku sebenarnya tahu apa yang harus kulakukan, pergi meninggalkanmu, melupakanmu, dan menganggap semua tak pernah terjadi. Namun sekarang aku masih sabar untuk menghadapimu, aku masih ingin memberfimu kesempatan untuk yang beribu kali. Jika kesabaranku ini masih ingin kamu sia-siakan, mungkin jalan yang terbaik memang harus pergi. Karena kamu bukan lagi pria yang ku kenal seperti dulu lagi, bukan pria manis yang kucintai karena ketulusan dan keramahannya.
Kini, kamu adalah pria kasar yang tak segan-segan, mengeluarkan kata makian, hujatan, dan kata-kata lain yang menusukkan jarum-jarum kecil dihatiku. Kamu berubah jadi pria lain, pria egois yang selalu ingin dimengerti kesibukkannya, dan membiarkan aku menunggu sabar tanpa melawan ataupun membuka suara. Aku tak tahu mengapa perjuanganku hanya kau anggap angin lalu. Apa matamu tak terbuka untuk menyadari siapa perempuan yang selama ini jatuh bangun mencintaimu?
Biarlah waktu yang membuatmu sadar, Sayang. Biarkan aku yang hanya kauanggap angin lalu ini pergi pelan-pelan dari hidupmu. Beri aku kesempatan untuk menghirup udara bebas dan tak lagi menangisi sikap cuekmu selama ini.
Permintaanku tak banyak, aku hanya ingin kamu yang dulu kembali lagi ke masa kini. Entahlah ... rasanya aku sangat ingin kamu yang dulu. Kamu yang lugu, polos, dan yang selalu takut kehilanganku. Aku rindu kamu yang dulu.
Langganan:
Postingan (Atom)