Tidak semua yang aku tulis adalah aku, tidak semua yang kamu baca adalah kamu
Snow Leopard Print Pointer

Sabtu, 24 Januari 2015

Terlalu Cepat

  Sehabis pulang sekolah sore ini, aku kembali membaca ulang percakapan kita, saat aku dan kamu masih menjadi dua manusia yang bisa dibilang punya kecocokan juga kesamaan. Aku tertawa walaupun diam-diam hatiku teriris mengingat bahwa hal-hal manis ini tak mungkin terjadi lagi. Tak mungkin lagi aku berharapbahwa kamu akan berubah jadi pria yang dulu begitu kukenal, yang kehadirannya sulit kuduga. Kenyataan yang harus kuterima, kamu bukan lagi pria yang dulu sangat kucinta, kamu berubah tak mau tahu lagi kenangan-kenangan kita dulu.

  Rasanya aku masih mengingat ketika pertama kali kita berjumpa, dan banyak hal lain yang jika semakin kuingat, semakin membuat dadaku sakit. Aku tak sadar mengapa perkenalan yang tidak sengaja ini sukses membuatku berharap terlalu jauh pada sosok terlalu sempurna sepertimu.

  Bagiku kesempurnaanmu adalah beban sangat berat untuk gadis seusiaku. Aku hanya perempuan biasa. Dan, kamu? Kamu adalah pria luar biasa yang tidak dapat kutemukan lagi sepertimu diluaran sana. Sementara aku hanya gadis biasa yang hanya berani menatapmu dari jauh dan berharap bahwa pertemuan pertama kita adalah mimpi yang akan terus berlanjut. Aku berharap tidak pernah bangun, berharap tak ada orang yang menyadarkanku bahwa mendekatimu adalah khayalan yang terlalu tinggi.

  Dan, ternyata kamu memang tak sejauh matahari, kamu bukanlah sebuah ilusi. Dua kali kita bertemu, namun kamu menghadirkan kenangan yang tak akan pernah bisa kulupakan hanya dalam waktu singkat. Aku tak pernah paham apa yang membuatmu kini menjauh, aku tak tahu mengapa kau lebih percaya cerita mereka daripada pengakuanku. Aku tak tahu mengapa hubungan yang awalnya kukira main-main ini ternyata menimbulkan luka yang luar biasa dalam bagiku.

  Terlalu cepat jika semua harus berkahir. Terlalu cepat jika aku harus kembali bersedih karena kehilangan kamu. Aku sedang di puncak sayang-sayangnya sama kamu, sementara kamu mendorongku dari atas sana, membiarkanku terjatuh sendirian dan kamu tertawa seakan tidak melakukan kesalahan. Ini terlalu cepat mas. perempuan yang selalu kamu sebut dengan dek ini masih memperjuangkan dan mengusahakanmu, tapi mengapa semalam kau bilang kamu telah bersama yang lain? Mungkin, ini tidak akan pernah adil untukku, namun apa yang bisa aku tuntut? kita tak punya status apapun, menangispun rasanya tak akan membuat kita kembali seperti dulu.

  Aku tak membencimu. Aku cuma benci hari-hari tanpamu. Aku tidak akan pernah menyesal pernah mengenalmu. Aku hanya menyesal mengapa dulu saat kau tawarkan perkenalan, aku terlalu cepat untuk mengulurkan tangan?

Minggu, 18 Januari 2015

Kisah yang Salah

Untuk 'Mas yang selalu memanggilku dengan sebutan 'Dek'

  Masih tersisa bayang-bayangmu di kamarku. Suara pendingin ruangan, ketika jemariku di laptop, dan setiap inci ketika aku melempar pandang. Entah, mengapa wajahmu selalu hadir di sana. Aku tahu ini bukan lagi perasaan yang biasa, perasaan ini pun tak jelas ujungnya, perasaan yang membuatku bingung dan linglung.  Aku pun semakin dibuat bingung kekasihmu, yang tak pernah kau ceritakan itu memakiku dengan ucapan murahan dan berbagai makhluk dari kebun binatang ikut serta dalam hujatan kekasihmu dan makian dari kekasihmu itu benar-benar menghancurkanku.

  Kita bertengkar hebat, mengapa tidak dari awal kamu mengaku telah berdua? meskipun kita belum terikat dalam status dan kejelasan, kejadian ini cukup membuatku terpukul dan terluka. Adakah yang paling sakit ketika kau dibohongi oleh orang yang seratus persen kamu percayai? dan kamu merusak kepercayaan yang telah kubangun susah payah demi kamu. Aku tak tahu harus menyesal, marah berteriak, meninggalkanmu, atau secara egois tetap melanjutkan hubungan kita. Yang jelas, saat ini, aku tahu siapa pria yang selama ini kucintai dengan sangat tolol. Kamu cuma pembohong yang menghalalkan segala cara untuk menghapus kesepian dan kehausan dirimu akan perhatian.


  Kalau kamu mau aku mengatakan semua dengan sangat jujur, aku akan bercerita betapa sejak kita berkenalan, kamu telah memunculkan ledakan-ledakan dihatiku. Kamu adalah gambaran pria sempurna yang kucari selama ini. Kamu sempurna, Mas, sangat sempurna bagiku. Silaumu menggelapkan mataku, aku seakan pasrah berjalan menuju cahayamu. Aku terlena pada percakapan kita di ujung malam, pada tawamu yang menyegarkanku, pada selera humormu yang cukup tinggi, pada kata-kata cintamu, pada usahamu untuk menahanku pergi.


  Aku telah memilihmu, bahkan ketika aku menemukanmy ada faktor yang entah dinamakan apa, yang membuatku tak ingin meninggalkan ponsel barang sedetik saja, agar tetap mengetahui kabarmu. Dari makian kekasihmu, perempuan yang tak sepenuhnya aku kenali itu, sesungguhnya aku telah paham bahwa aku salah telah mengagumimu. Seharusnya, sebelum kita bergerak terlalu jauh, lebih dulu harus tau harus kutahu bagaimana status hubunganmu yang sesungguhnya. Aku tak tahu perasaan ini bernama apa, Mas. Yang jelas setelah ntahu kamu berbohong, aku hanya merasakan mataku panas dan ada yang basah dipipiku.


  Sekarang apa yang harus aku sesali? kau dan dia sudah menjalin hubungan lama, aku yang baru kau kenali dalam hitungan bulan hanya bisa berdoa bahwa tuhan sesegera mungkin melepaskan perasaan ini, agar aku tak jadi pembunuh berdarah dingin yang haus akan rasa bahagia. Aku yang tak tahu salahku dimana, terpaksa meminta maaf pada kekasihmu, walaupun sebenarnya aku tak tahu dimana salahku. Setiap kutanya, kau hanya menutup mulut, berkata maaf, berkata kau mencintaiku, berkata kau tak ingin kehilanganku, berucap bahwa kauingin tetap kita dalam status berteman. Setelah kau hancurkan semua, setelah kau habisi semua harapanku, kau masih ingin berharap aku tetap bersikap normal ketika luka dihatiku semakin berdarah?


  Ah, ini bukan salahmu, juga bukan salah kekasihmu yang memakiku dengan ucapan kasar itu. Ini salahku, gadis yang terlalu cepat mengagumimu, gadis berumur belasan tahun yang merasa bahwa kamu bisa menjadi sandaran hatinya. Ini salahku, pasti salahku, selalu salahku, karena tak paham bahwa perkenalan ini ternyata bisa menjerumuskan aku pada perasaan yang harusnya tidak aku rasakan. Aku minta maaf untuk semua peristiwa yang terjadi tanpa keinginanmu, tanpa keinginan kekasihmu, tanpa keinginan kalian. Aku tidak pernah bermaksud untuk mengganggu kebahagianmu karena sebenarnya dari awal kau mengaku tak punya seorang kekasih, jadi kurasa masih ada kesempatan untuk membuatmu tertawa dan bahagia lebih dari hari ini.


  Aku tak pernah tahu perasaan ini disebut apa. Yang jelas ketika kubilang aku ingin meninggalkanmu, aku ingin mengakhiri semua, aku ingin kau pergi menjauh. Aku merasa seperti membohongi diri sendiri. Aku tak tahu perasaan ini dinamakan apa, jika memang bukan cinta, jika memang hanya ketertarikan sesaat, mengapa sekarang aku masih menatap ponselku, berharap kamu menanyakan kabarku?

Sabtu, 03 Januari 2015

Kenapa harus kamu?

Kenapa harus kamu?

Yang menghadirkan tanda tanya dan bisu yang menyeringai santai


Kenapa harus kamu?


Yang tiba-tiba datang lalu menyelonong masuk ke dalam pintu hatiku


Apakah tak ada orang lain selain kamu?


Yang bisa membuatku jatuh cinta hingga merasakan luka


Aku masih tak tahu dan tak mengerti


Kenapa harus kamu?


Yang mampu memaksa otakku agar tak berhenti memikirkanmu


Kenapa harus kita?


kenapa bukan mereka?


Kenapa kau tak pernah menjawab?


Kenapa kau yak pernah memberiku isyarat?


Aku telah melawan rasa takutku


Hanya umtuk mencintaimu



Lalu, kenapa harus kamu?


Yang mampu mengubah rasa takutku menjadi sebuah keberanian kecil


Mengubah badanku yang menggigil menjadi senyum tipis walau secuil


Jangan biarkan aku terus mencari hal yang sebenarnya tak ada


Jangan biarkan aku terus merasakan perasaan yang sebenarnya tak kau rasakan


Jangan biarkan aku terus menunggu


Jangan biarkan waktuku terus terbuang


Hanya karena kamu yang sulit kulupakan


Kenapa harus kamu?


Yang mampu membuatku melamun sepanjang waktu


Kenapa harus kamu?


Yang menjadi sebab air mataku terjatuh